BEBERAPA hari ini, para sopir dan pengusaha angkutan kota (angkot) atau di Banjarmasin lebih dikenal dengan sebutan taksi kuning, 'menggeliat'. Angir segar seakan berembus ketika Pemko melalui dinas perhubungan informasi dan komunikasi (Dishubkominfo) menginformasikan rencana penggantian angkot. Saat ini, kendaraan angkutan umum berwarna kuning dan putih kuning ini berjenis minibus seperti Suzuki Carry. Rencananya, angkot bakal diganti dengan mobil yang lebih bagus dan modern, yakni Suzuki APV. Untuk tahap awal sebanyak 125 mobil. Begitu tahu ada informasi itu, para sopir dan pengusaha angkutan kota ramai-ramai mendaftar. Angka yang mendaftar pun sudah melebih rencana pengadaan mobil Suzuki APV, yakni 150 lebih. Walaupun masih tahap pendaftaran, namun rencana pergantian mobil angkot ini membawa semangat baru, baik bagi pengusaha angkutan umum, sopir dan masyarakat. Sebab, sudah jadi rahasia umum, alat transportasi massal ini di Kota Banjarmasin ini mulai terpinggirkan. Ada banyak faktor yang menyebabkannya. Paling berpengaruh tentunya saja kemudahan masyarakat untuk mendapat kredit sepeda motor. Cukup dengan uang Rp 500 ribu sampai Rp 750 ribu, sepeda motor baru sudah bisa dibawa pulang. Ketika di belakang hari kreditnya macet, lalu motor ditarik oleh leasing, itu lain persoalan. Di sisi lain, saat ini usia angkot di Kota Banjarmasin tergolong 'besi tua'. Paling muda usianya buatan 2001. Bahkan, masih ada mobil keluaran 1983 yang beroperasi. Rata-rata usianya di atas 20 tahun! Lucunya, tidak ada upaya peremajaan sama sekali dari pemko. Lambat laun, orang pun lebih memilih sepeda motor karena lebih praktis. Ini terlihat jelas pada jumlah trayek. Semula ada 20 sekarang hanya tinggal lima. Alangkah naif jika sebuah kota tidak memiliki alat trasportasi massal. Apalagi status Kota Banjarmasin yang ingin menjadi kota metropolitan, memiliki alat transportasi massal adalah keharusan. Tidak bisa hanya mengandalkan sepeda motor, karena kepentingan dan orientasi penggunaannya berbeda. Demikian pula taksi, hanya bisa menyasar kalangan menengah ke atas. Sementara untuk menggunakan angkutan lebih besar macam bus tidak sesuai untuk Kota Banjarmasin yang kondisi jalannya pendek- pendek dan kebanyakan sempit. Demikian pula untuk dibangun trem atau kereta listrik, butuh dana yang tida sedikit. Alat trasportasi massal yang paling cocok untuk Kota Banjarmasin memang hanya angkot. Seandainya rencana seperti ini muncul lima atau 10 tahun lalu, mungkin kondisi angkutan massal di Banjarmasin tidak sekarat seperti sekarang, ditinggalkan oleh penggunanya. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya. Jika angkot bakal diganti dengan mobil jenis Suzuki APV benar-benar terealisasi, diharapkan muncul semangat baru untuk membenahi trasportasi perkotaan. Namun, patut dijaga, jangan sampai semangat ini ditunggangi oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan pribadi. Seperti oknum yang ikut berbaur di antara sopir dan pengusaha angkutan demi mendapatkan mobil baru dengan harga miring dan bisa dipakai untuk tambahan penghasilan. Harus pula diawasi, pengusaha-pengusaha dadakan yang menurut informasi mulai kasak-kusuk ikut mendaftar. Berikan ruang lebih bagi penggelut usaha ini atau sopir yang sudah berkecimpung puluhan tahun. Namun, penggantian angkot saja tidaklah cukup jika fasilitas lain terabaikan. Halte di Kota Banjarmasin jumlahnya sedikit. Trayek hanya tinggal lima. Sementara kondisi terminal semrawut. Semoga semangat pembenahan itu tak berhenti sampai pada pergantian angkot saja. (*)
PENEGAKAN hukum menjadi harapan masyarakat. Semua orang diperlakukan sama di mata hukum. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga agar hukum itu ditegakkan dengan benar. Walaupun jadi tanggung jawab bersama, tapi pilar-pilar hukum adalah ujung tombak pelaksananya. Hakim, jaksa, polisi dan pengacara berada dalam satu lingkaran hukum tak terpisahkan. Ketika salah satu berjalan di luar lingkaran, maka lemahlah hukum itu. Ada banyak kasus yang menunjukkan hukum itu melemah, mulai dari level nasional sampai ke tingkat daerah. Salah satu contoh melemahnya hukum adalah indikasi kejanggalan surat keterangan perawatan medis pada kasus pesta sabu di Tanjung, Tabalong. Dua terdakwa yang juga sipir Lapas Narkotik Tanjung, Ekat Rariu A dan Randy Kurnia mendapat vonis 'ringan' karena ada alat bukti yakni berupa surat medis dari Rumah Sakit Wava Husada dan Rumah Sakit Jiwa Radjiman Wedyodiningrat, Malang, Jawa Timur. Surat itu menerangkan keduanya pernah dirawat di dua rumah sakit itu. Namun, belakangan muncul indikasi kejanggalan surat itu karena dua orang itu tetap masuk kerja pada tanggal dia dirawat. Indikasi kejanggalan ini yang luput dari perhatian pilar-pilar hukum. Jaksa, dengan mudah menerima surat itu sebagai alat bukti. Padahal, jaksa merupakan pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang sebagai penuntut umum. Otomatis, sebagai pemegang amanat undang-udang, jaksa jugai pengemban amanat rakyat, sebagai pelayan masyarakat pencari keadilan. Sudah sepantasnya jaksa menjunjung tinggi hukum agar tidak diinjak-injak oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Sementara pada kasus ini, hakim tidak berbuat lebih jauh dengan alasan normatif karena melihat jaksa tidak mempersoalkan surat medis tersebut. Para hakim berperan penting dalam memutuskan perkara. Ketika proses persidangan ada kejanggalan, menjadi tugas hakim untuk meluruskannya, didukung bukti-bukti yang kuat. Sebab, kecermatan seorang hakim kunci dari keadilan. Ketika dugaan kejanggalan in terpublikasi melalui media, masyarakat melihatnya seperti sebuah dagelan. Muncul dugaan ada permainan di balik sidang untuk meringankan hukuman dua sipir itu. Makin menguatkan pula dugaan bahwa hukum bisa dibolak-balik, salah jadi benar, benar jadi salah. Kejanggalan ini jadi preseden buruk penegakan hukum di Banua. Jika didiamkan, alamat muncul lagi kasus-kasus serupa yang menurut pandangan masyarakat awam adalah sebuah dagelan penegakkan hukum. Atau, memang hukum dengan mudah dibikin jadi dagelan asal saling menguntungkan? Mudah-mudahan tidak seperti itu. Sebab, tingkat kepercayaan masyarakat pada pilar-pilar hukum bakal makin melemah seiring melemahnya penegakkan hukum. Oleh karena itu, aparat kepolisian, khususnya Polres Tabalong jangan tinggal diam. Usut tuntas dugaan ketidakberesan ini. Siapa pun ketika melakukan tindak pidana atau melakukan perbuatan melanggar hukum, polisi harus bertindak tegas. Jangan ragu untuk menindak pelakunya, meski itu dilakukan oleh pilar hukum itu sendiri. Patut diingat, polisi adalah pelayan masyarakat. Ketika masyarakat melihat ada ketidakberesan hukum, polisi harus membantu masyarakat mengusut dan menggiring ke ranah hukum. Jangan malah terbalik, melayani dan melindungan orang yang memiliki kekuatan materi. Jangan sampai hukum tercederai atau ikut melemahkannya. Pada kasus ini, harapan masyarakat tingggal pada pundak kepolisian.  PENEGAKAN hukum menjadi harapan masyarakat. Semua orang diperlakukan sama di mata hukum. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga agar hukum itu ditegakkan dengan benar. Walaupun jadi tanggung jawab bersama, tapi pilar-pilar hukum adalah ujung tombak pelaksananya. Hakim, jaksa, polisi dan pengacara berada dalam satu lingkaran hukum tak terpisahkan. Ketika salah satu berjalan di luar lingkaran, maka lemahlah hukum itu. Ada banyak kasus yang menunjukkan hukum itu melemah, mulai dari level nasional sampai ke tingkat daerah. Salah satu contoh melemahnya hukum adalah indikasi kejanggalan surat keterangan perawatan medis pada kasus pesta sabu di Tanjung, Tabalong. Dua terdakwa yang juga sipir Lapas Narkotik Tanjung, Ekat Rariu A dan Randy Kurnia mendapat vonis 'ringan' karena ada alat bukti yakni berupa surat medis dari Rumah Sakit Wava Husada dan Rumah Sakit Jiwa Radjiman Wedyodiningrat, Malang, Jawa Timur. Surat itu menerangkan keduanya pernah dirawat di dua rumah sakit itu. Namun, belakangan muncul indikasi kejanggalan surat itu karena dua orang itu tetap masuk kerja pada tanggal dia dirawat. Indikasi kejanggalan ini yang luput dari perhatian pilar-pilar hukum. Jaksa, dengan mudah menerima surat itu sebagai alat bukti. Padahal, jaksa merupakan pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang sebagai penuntut umum. Otomatis, sebagai pemegang amanat undang-udang, jaksa jugai pengemban amanat rakyat, sebagai pelayan masyarakat pencari keadilan. Sudah sepantasnya jaksa menjunjung tinggi hukum agar tidak diinjak-injak oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Sementara pada kasus ini, hakim tidak berbuat lebih jauh dengan alasan normatif karena melihat jaksa tidak mempersoalkan surat medis tersebut. Para hakim berperan penting dalam memutuskan perkara. Ketika proses persidangan ada kejanggalan, menjadi tugas hakim untuk meluruskannya, didukung bukti-bukti yang kuat. Sebab, kecermatan seorang hakim kunci dari keadilan. Ketika dugaan kejanggalan in terpublikasi melalui media, masyarakat melihatnya seperti sebuah dagelan. Muncul dugaan ada permainan di balik sidang untuk meringankan hukuman dua sipir itu. Makin menguatkan pula dugaan bahwa hukum bisa dibolak-balik, salah jadi benar, benar jadi salah. Kejanggalan ini jadi preseden buruk penegakan hukum di Banua. Jika didiamkan, alamat muncul lagi kasus-kasus serupa yang menurut pandangan masyarakat awam adalah sebuah dagelan penegakkan hukum. Atau, memang hukum dengan mudah dibikin jadi dagelan asal saling menguntungkan? Mudah-mudahan tidak seperti itu. Sebab, tingkat kepercayaan masyarakat pada pilar-pilar hukum bakal makin melemah seiring melemahnya penegakkan hukum. Oleh karena itu, aparat kepolisian, khususnya Polres Tabalong jangan tinggal diam. Usut tuntas dugaan ketidakberesan ini. Siapa pun ketika melakukan tindak pidana atau melakukan perbuatan melanggar hukum, polisi harus bertindak tegas. Jangan ragu untuk menindak pelakunya, meski itu dilakukan oleh pilar hukum itu sendiri. Patut diingat, polisi adalah pelayan masyarakat. Ketika masyarakat melihat ada ketidakberesan hukum, polisi harus membantu masyarakat mengusut dan menggiring ke ranah hukum. Jangan malah terbalik, melayani dan melindungan orang yang memiliki kekuatan materi. Jangan sampai hukum tercederai atau ikut melemahkannya. Pada kasus ini, harapan masyarakat tingggal pada pundak kepolisian.  TIGA jam bukan waktu yang sebentar. Banyak hal bisa dilakukan dalam kurun waktu itu. Tapi akan sangat membosankan ketika harus menunggu. Apalagi jika yang ditunggu adalah keberangkatan pesawat. Demikian yang dialami ratusan calon penumpang beberapa maskapai penerbangan, Kamis (21/4) sore. Beberapa pesawat tidak bisa mendarat maupun take off karena landasan pacu Bandara Syamsudin Noor rusak. Perlu waktu minimal tiga jam bagi pihak PT Angkasa Pura Bandara Syamsudin Noor untuk memperbaikinya. Pihak PT Angkasa Pura Bandara Syamsudin Noor beralasan terjadi kerusakan di titik 1.600 meter dari awal runway 10 karena usia landasan sudah tua. Akibatnya ada bagian dari landasan yang ambles hingga 7 sentimeter. Landasan pacu Bandara Syamsudin Noor kerap mengalami kerusakan. Pada 24 Maret 2011, landasan pacu Bandara Syamsudin Noor juga mengalami kerusakan. Panjang landasan yang seharusnya 2.500 meter berkurang sekitar 300 meter karena aspal mengelupas. Meski penerbangan tidak terganggu, namun saat itu para calon penumpang cemas. Pun dengan pilot, harus ekstra hati-hati. Lucunya, bagian yang rusak itu pernah mengelupas pula pada 2004. Kepala Bidang Lalu lintas Angkutan Udara Dinas Perhubungan Kalsel Ismail Iskandar mengatakan, seharusnya tiap lima sampai enam tahun landasan diperbaiki atau dipoles. Lantas, kenapa tidak dilakukan? Mungkin jika pemeliharaan rutin dilakukan, kerusakan bisa diminimalisasi. Biaya perbaikan pun tidak besar. Bayangkan saja, untuk memperbaiki aspal yang terkelupas pada Maret lalu, PT Angkasa Pura harus mengeluarkan uang Rp 20 miliar. Belum diperoleh informasi berapa biaya perbaikan kerusakan di titik 1.600 meter. Melihat kondisi landasan pacu demikian, rasa pesimistis muncul ketika ada informasi bahwa Bandara Syamsudin Noor bakal dikembangkan menjadi berstatus internasional. Selama ini bandara yang berlokasi di Banjarbaru ini status internasionalnya hanya insidentil, yakni ketika musim haji. Semangat menjadikan Bandara Syamsudin Noor berstatus internasional adalah untuk mengakomodir jemaah umrah dan haji Banua yang tiap tahun terus meningkat. Bahkan untuk jemaah umrah saja mencapai 21 ribu orang tiap tahun. Di antara persyaratan fisik sebuah bandara berstatus internasional adalah minimal memiliki landasan pacu sepanjang 2.500 meter dan ada kantor imigrasi untuk pemeriksaan paspor, visa serta dokumen lainnya. Jika dalam waktu dekat Bandara Syamsudin Noor tidak bisa memenuhi itu, jemaah harus transit di bandara-bandara yang sudah berstatus internasional seperti Bandara Polonia di Medan atau Sepinggan, Balikpapan. Mampukan pemerintah daerah dan PT Angkasa Pura mewujudkannya dalam waktu dekat? Kalau melihat pengelolaan bandara seperti sekarang, sepertinya sulit terwujud. Belum bersatus internasional saja landasan pacu masih sering rusak, apalagi jika bersatus internasional. Pesawat berbadan besar bakal sering 'menghantam' landasan pacu. Belum lagi fasilitas penunjang macam taxi way (jalan penghubung antara landasan pacu dengan apron), kapasitas apron, hanggar, terminal penumpang dan lainnya harus standar internasional. Butuh dana yang tidak sedikit. Perbaikan Maret lalu saja menelan biaya Rp 20 miliar apalagi untuk melengkapi fasilitas itu berstandar internasional. Bukan untuk melemahkan semangat memberi kenyamanan bagi jemaah umrah dan haji. Bukan pula ingin melemahkan semangat meningkatkan pelayanan pada penumpang pesawat asal Kalsel. Tapi, lihat dulu realitanya, baru melakukan perencanaan. Jangan sampai rencana kurang matang, kemudian semangat yang 'luhur' itu putus di tengah jalan lantaran pengelolaan bandara amburadul. * RASA penasaran membuat saya bergegas membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan PT Gramedia Pustaka Utama. Kebetulan kamusnya masih baru, terbitan 2008. Jadi mudah saja menemukan kata yang kita ingin tahu makna atau artinya. Saya ingin tahu arti dari kata peduli. Ternyata ada tiga arti, yakni mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan. Kata peduli jika ditambah imbuhan maknanya tak terlalu jauh dari kata dasar peduli. Bukan tanpa sebab saya mau tahu artinya. Suatu hari saya berkunjung ke kantor teman. Kantornya tidak terlalu besar. Di dalam ruang ada beberapa orang bekerja di balik layar komputer. Kebetulan teman saya masih ada urusan di bagian lain. Sembari menunggu saya duduk di ruang tamu. Tiba-tiba terdengar dering telepon. Suaranya nyaring membelah kesunyian. Tapi tak satu pun dari orang-orang di ruang kerja itu yang mengangkat telepon. Mereka asyik dengan aktivitasnya sendiri Bunyi telepon terus berulang sampi akhirnya mati sendiri. Saya pun heran, kenapa tak ada yang peduli untuk mengangkat telepon. Padahal, mungkin saja telepon itu dari klien potensial. Mungkin pula dari bos yang ingin tahu perkembangan pekerjaan. Bisa pula telepon dari salah seorang keluarga yang ingin menyampaikan kabar duka. Begitu banyak kemungkinan. Who's know? Mungkin, peduli, kepedulian, memedulikan sudah dianggap angin lalu. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Just ordinary thing, hanya sesuatu yang lumrah. Bahaya! Ini sangat berbahaya. Suasana di dalam sebuah kantor itu hanya contoh kecil. Ibarat penyakit kanker mungkin masih stadium I. Bagaimana jika berlanjut jadi semacam kanker stadium IV, akut, parah, tinggal menunggu semaput. Contohnya sangat banyak, bisa kita saksikan sehari-hari. Tengok saja tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di bebeberapa sudut jalan. Sampah diangkut sekitar pukul 07.00 Wita. Tunggu saja beberapa jam, TPS sudah terisi sampah dalam jumlah lumayan. Padahal jelas sekali Pemko Banjarmasin punya aturan melarang warga membuang sampah siang hari. Tapi, siapa yang peduli? tidak ada. Atau lihat kondisi Pasar Tungging di Jalan Belitung. Dulu hanya beberapa pedagang. Kini jumlahnya lebih 400. Pedagang sudah betah berdagang di sana. Memindah mereka perlu pertimbangan yang sangat matang. Seandainya dulu saat pedagang masih sedikit, Pemko peduli untuk menata, mungkin tidak sulit seperti sekarang. Sepertinya memang sepele, tapi efeknya cukup besar jika skala peristiwanya besar. Peduli, memedulikan, kepedulian. Coba anda lakukan, toh tak ada ruginya.  PADA satu kesempatan tampil di suatu acara di televisi, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan jangan coba-coba melawan arus kekuatan rakyat. Menurut dia, dalam sejarah, orang yang melawan kekuatan rakyat itu digilas. Tidak ada yang selamat. Peran rakyat dalam sebuah negara yang menganut paham demokrasi memang sangat vital. Rakyat tidak lagi bisa diabaikan, seperti yang dilakukan para diktator atau negara yang menganut paham demokrasi terpimpin. Rakyat adalah salah satu pilar demokrasi yang direpresentasikan melalui lembaga legislatif. Didukung pilar-pilar lain seperti eksekutif, yudikatif dan pers, maka demokrasi dapat berjalan secara elegan. Tapi, manakala aspirasi rakyat tersumbat, tak tersalurkan melalui legislatif, rakyat bisa bertindak sendiri. Maka muncul lah gerakan rakyat, people power bahkan revolusi. Indonesia punya cukup banyak pengalaman melibatkan kekuatan rakyat baik yang dipolitisir atau muncul karena rakyat ingin melawan kekuasaan absolut. Ketika Presiden RI pertama Soekarno mulai membawa Indonesia ke arah demokrasi terpimpin, rakyat dimotori mahasiswa berunjuk rasa. militer pun 'bersimpati' kepada rakyat yang kesusahan. Pada akhirnya Soekarno menyerahkan jabatan kepada Soeharto. Demikian pula, saat rakyat tak lagi percaya atas kepemimpinan dan kekuasaan Soeharto selama puluhan tahun, presiden kedua Indonesia ini lengser pada 1998. Presiden ketiga Abdurrahman Wahid, merasakan besarnya kekuatan rakyat meskipun dalam skala lebih kecil. Ketika Gus Dur sudah tidak sejalan dengan wakil rakyat, dia pun diturunkan dari jabatannya, diganti Megawati Soekarno Putri. Kekuatan rakyat tidak akan pernah mati. Kekuatan ini akan bangkit ketika rakyat merasa ada ketidakberesan pada eksekutif, legislataif dan yudikatif. Apalagi jika didukung pers, kekuatan ini tak terkalahkan. Apakah people power dalam skala yang besar kembali berulang di Indonesia? Apalagi rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, ketertindasan dan kebencian atas konspirasi dan kolusi oknum pemerintahan menyatukan rakyat. Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi. Harga yang harus dibayar Indonesia untuk gerakan rakyat tidaklah sedikit. Sangat riskan bagi Indonesia harus mengulang peristiwa yang sama dan membuat roda pembangunan terhambat akibat konstelasi politik yang tidak stabil. Seharusnya pemerintah bisa belajar dari pendahulunya agar jangan sampai jatuh ke lubang yang sama. Tanda-tanda rakyat tidak puas, tidak percaya dan merasa tidak diperlakukan secara adil itu sudah tampak di hadapan mata. Coba lihat tekanan rakyat ke pemerintah ketika pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah menjadi pesakitan, gara-gara dituduh bertindak di luar kewenangan. Dukungan pada keduanya mengalir tiada henti, sampai mereka benar-benar lepas dari masalah. Demikian pula ketika seluruh elemen bangsa bersatu memperingati hari antikorupsi sedunia pada 9 Desember lalu. Tekanan rakyat agar kasus Bank Century diusut juga tak kalah hebat. Akumulasi kekesalan dan ketidakpuasan bisa merubah people power menjadi sebuah revolusi. Kita tentu tidak ingin sejarah negeri ini mencatat pergantian kekuasaan harus dengan cara revolusi. Seperti yang dialami Iran saat menjatuhkan rezim Syah Iran, kejatuhan komunis di Uni Soviet atau digulingkankannya Ferdinand Marcos dari pimpinan tertinggi Filipina. Harga yang harus dibayar rakyat untuk people power sangat mahal, apalagi harus melalui revolusi. Saatnya pemerintah mendengarkan rakyat. BERBICARA lebih mudah daripada bertindak. Semua orang mungkin mengerti hal ini. Akan lebih baik jika bicara dibarengi tindakan. Hasilnya insya allah bakal lebih baik. Ketika bicara sudah sampai tahap 'berbusa-busa' tapi tidak mengerjakan apa yang telah diomongkan tadi, rasanya jadi mubazir. Mulut dan tenggorokan sampai kering tapi perubahan yang diharapkan tidak ada. Sungguh sia-sia. Tapi, mudah-mudahan apa yang saya bicarakan lewat tulisan ini tidak sia-sia. Toh, tujuannya baik, demi kepentingan bersama. Bukan untuk kesenangan pribadi, walaupun sedikitnya ada pula terkait diri pribadi saya sebagai anggota kemasyarakat. Beberapa hari lalu, rubrik Gen Y yang memuat komentar dari account facebook pembaca Metro Banjar mengangkat tema kondisi persimpangan Jalan Veteran dengan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Pangeran Hidayatullah. Banyak komentar yang mengeluhkan kondisi jalan di kawasan ini. Sebagian teman mungkin sudah tahu kondisi lalu lintas kendaraan di kawasan ini. Satu kata paling cocok menggambarkannya adalah semrawut. Di sana ada traffict light dengan waktu jeda antara warna merah dan hijau cukup lama. Dishub dan kepolisian mungkin punya alasan sendiri tentang pengaturannya. Tapi yang jadi masalah bukan traffict light (mudah-mudahan). Suatu ketika, saat berangkat menuju tempat kerja, saya berbarengan dengan seorang pria tua berhenti saat lampu merah menyala. Sang bapak sangat tidak sabaran. Sebentar-sebentar matanya melihat ke arah traffict light. Sejurus kemudian matanya memandang arlojinya. Sementara mulutnya tiada henti mengeluarkan umpatan betapa lamanya lampu tidak berubah jadi hijau. Akhirnya bapak sepuh itu habis kesabaran. Belum lagi lampu lalu lintas berwarna hijau, motornya dipacu menerabas persimpangan jalan yang padat kendaraan itu. Bagai dikomando, sebagianpengendara mengikuti aksi bapak itu. Saat itu saya masih bisa menaha diri tidak ikut-ikutan menerabas. Pada kesempatan lain, di tengah terik sinar matahari, kesabaran saya habis. Bagaimana tidak, saya tidak mungkin menunggu lampu berubah jadi hijau wong lampunya padam. Saya juga tidak mungkin menerabas karena di persimpangan jalan itu macet total. Tidak bisa bergerak maju. Ada dua tindakan yang bisa dilakukan, balik kanan atau belok kiri. Saya memilih belok kiri ke Jalan Gatot Subroto. Saat kondisi genting macam itu, saya tidak melihat aparat kepolisian. Mungkin mereka sedang mendapat tugas penting di jalan lain. Sepanjang Jalan Gatot Subroto saya lihat barisan mobil lumayan panjang. Saya bisa membayangkan, kejadian ini pasti berawal dari seorang pengendara menerabas lalu macetlah jalan. Kembali ke rubrik Gen Y Metro Banjar tadi, ada seorang memberi komentar cukup menarik. Orang itu bilang mungkin riding attitude urang Banjar yang kelewat hebat. Ada lagi yang bilang karena kita terbiasa menggunakan trasportasi sungai. Apa benar seperti itu? Saya yakin tidak. (*)
SUATU sore saya makan di warung tenda di Jalan A Yani. Jalan negara ini sejak kilometer 1 sampai kilometer 6 berubah jadi tempat wisata kuliner. Pilihannya makanan cukup banyak, tinggal mencocokkan dengan selera masing-masing. Begitu mau menyantap makanan, dua pemuda masuk ke dalam warung tenda. Salah seorang bertubuh kurus menenteng gitar warna coklat tua ditempeli beragam stiker. Satu lagi posturnya agak gemuk. Jika ada yang meladeni, saya berani bertaruh, kalimat apa yang meluncur dari mulut dua pemuda itu. "Permisi om, bu," kata mereka. Sampai di situ saya masih tidak mempermasalahkan, walaupun saya belum sempat menyuap makanan ke mulut. Tapi ketika petikan gitar bercampur dengan suara dari pemuda bertubuh gemuk, indra dengar terasa gatal. Sungguh (maaf) fals dan saya sama sekali tidak merasa terhibur. Belum selesai lagu dinyanyikan, mereka sudah mendekati pengunjung warung sembari menyorongkan topi yang terbalik. semua orang tentu faham maksudnya. Mereka minta kerelaan hati para pengunjung warung untuk memberi barang Rp 500 atau Rp 1.000. Baru lima menit dua pengamen itu berlalu, muncul lagi dua pemuda dengan profesi sama. Sekilas saya perhatikan, gitar yang dipakai sama dengan dua pengamen terdahulu. Setali tiga uang dengan dua pengamen terdahulu, skill dua pemuda itu bermain gitar atau kemampuan olah vokal mereka sangat jauh dari kata bagus. Sama juga seperti dua pengamen terdahulu, belum lagi lagu selesai dinyanyikan, topi terbalik kembali beredar. Malah kalau ditarik garis persamaan, sangat jelas kelihatan. Mereka menjual kenestapaan, kemiskinan, wajah lusuh dan berharap iba orang lain. Jadi ingat saat bertugas di Bandung, Jawa Barat, saya diajak teman dari Tribun Jabar menyantap sate di Jalan Asia Afrika. Saat itu kami bertiga didatangi tiga pemuda. Dua di antaranya memegang gitar. Penampilannya bersih, seperti anak gaul. Dengan sopan, mereka minta izin untuk menyanyi. Tak berapa lama meluncur suara merdu dari salah seorang mereka diiringi alunan gitar. Lagunya tidak asal-asalan. Mereka membawakan lagu dari band asal Inggris, Muse kalau tidak salah judulnya Falling Away With You. Nikmat sekali rasanya bersantap sembari mendengarkan lagu yang enak. Uang pun dengan mudah keluar dari kantong celana pengunjung tempat makan itu. Saya menghayalkan pengamen-pengamen di Banjarmasin bisa seperti pengamen di Bandung. Bandung pernah punya seniman Harry Rusli yang mau mendidik pengamen agar tidak asal cuap. Mungkin di Banua ini juga ada yang bisa seperti Kang Harry. Atau pemko yang mengambil peran? Jangan biarkan mereka hanya menjual kemiskinan. Biar saja orang lain yang menjual kemiskinan. Pengamen bisa menjual skill kok!  RASANYA lebih dari lima kali saya menonton film Men In Black (MIB). Pertama sekitar akhir 1997 atau 1998 awal. Nebeng nonton di rumah teman menggunakan perangkat yang popular saat itu, yakni laser disc. Masa itu film-film produksi Hollywood tak bisa ditonton di bioskop. Maklum, pasca kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin, bioskop jaringan Cinema 21 turut musnah. Jadi, kalau mau menonton, medianya laser disc atau VHS (Video Home System). Mungkin tidak hanya saya menonton film yang meraih pendapatan 587 juta Dolar ini, lebih dari sekali. Mudah-mudahan pesan dari film ini bisa pula ditangkap. Pertama kali nonton film science fiction produksi 1997 ini, yang bisa saya tangkap mungkin sama seperti penikmat film lain. Semua penikmat film pasti tahu, jika film bertema seperti ini diproduksi Hollywood, dijamin special effect-nya luar biasa. Baru-baru ini saja ketika film ini diputar bergantian di stasiun TV tanah air, ada satu adegan yang menggelitik tertangkap indera penglihatan saya. Ada adegan ketika Agen J diperankan aktor kondang Will Smith memerotes aksi Agen K (Tommy Lee Jones) yang menghilangkan ingatan Dr Laurel Weaver (Linda Fiorentino), saksi mata yang mengetahui keberadaan makhluk luar angkasa menggunakan alat khusus berbentuk pulpen. Setting film ini memang berlatar manusia hidup berdampingan dengan makhluk luar angkasa di bumi, meskipun manusia sendiri tak menyadarinya. Dialog agen J dan K pada adegan ini sangat menarik. Agen J bertanya kenapa tiap saksi mata harus dihilangkang ingatannya. Padahal, mereka membantu penyelidikan agen MIB untuk mengetahui keberadaan Aliens Bug (makhluk luar angkasa yang jahat). Lantas apa jawaban Agen K? kurang lebih seperti ini,"Seorang manusia mungkin pintar, tapi seratus, seribu atau lebih adalah bodoh. Seribu tahun lalu manusia percaya bumi bulat. Lima ratus tahun lalu manusia percaya bumi adalah datar. Bukankah itu sebuah kebodohan?" Apa yang dikatakan Agen K itu memang benar. Pada 330 Sebelum Masehi, ilmuan Yunani Aristoteles sudah berteori bumi adalah bulat. Ribuan tahun teori tentang bumi berkembang. Pada abad pertengahan, penguasa di Eropa lebih percaya bumi adalaah datar. Ilmuan Italia, Galileo Galilei (1564-1642) terpaksa menerima hukuman dari penguasa karena meyakini bumi adalah bulat. Manusia dalam jumlah banyak adalah kumpulan pemikiran yang berbeda. Sangat susah untuk menyamakan persepsi massa jadi satu visi yang seragam. Massa juga sangat mudah terpengaruh, terlecut oleh isu lalu tiba-tiba bisa bertindak anarkis. Apa yang dibilang filsuf Inggris Thomas Hobes (1588-1679) bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya (Homo Homini Lupus) terjadi di negeri ini. Banjarmasin pernah merasakannya ketika kota ini hancur oleh kerusuhan 23 Mei 1997 saat masa kampanye. Untuk kembali bangkit sangatlah sulit. Hari itu adalah kelam tapi bisa jadi pelajaran berharga bahwa anarkis adalah menyakitkan. Iseng-iseng aku bongkar lemari di kamar. Terselip di pojokan laci dua benda mungil yang selama bertahun-tahun menemani tapi beda generasi. Sebuah Starko alias pager dan handphone Siemens A 55. Sungguh luar biasa. Syaraf-syaraf di otak seperti berdenyut membuka pintu ingatan dan terserabut lah informasi-informasi yang sudah sangat lama tersimpan di otak. Sungguh luar biasa. Dua benda mungil itu dulu pernah bertahun-tahun menemani kerjaku. Duluuuuuuu sekali, ketika handphone masih di angan-angan, ketika koneksi internel belum sehebat sekarang, pager jadi alat komunikasi nomor wahid. Walaupun telepon waktu itu sudah ada, tapi pager adalah alat komunikasi pertama di masanya yang bersifat mobile. Pager merupakan perpaduan dari perkembangan teknologi komunikasi dengan teknologi informasi. Pager adalah media penerima pesan yang portable yang bekerja berdasar prinsip kode signal radio yang ditransmisikan melalui suatu provider. Amerika sudah mengenal pager atau beeper sejak 1921. Indonesia baru mengenalnya pada 1990. Cara kerjanya kalo mau mengirim pesan cukup telepon operator sebutkan isi pesan dan pengirimnya dan nomor pager tujuan. Tunggu beberapa detik, pesan pun sampai ke nomor pager tujuan. Yang agak sulit kita harus punya catatan tersendiri nomor pager tujuan. Sebab tidak semua pager ada fasilitas memori. Jadi, memang agak ribet. Selain punya pager kita juga harus dekat dengan telepon umum untuk mengirim pesan balasan atau menelpon sang pengirim pesan plus jangan lupa notes berisi catatan nomor pager dan nomor telepon. Tapi terlepas dari keribetan yang saat itu tak begitu terasa (soalnya waktu itu gaya banget kalo punya pager...hehehe) banyak kenangan saat menggunakan pager. ID pagerku waktu itu 1206. Semua wartawan BPost Group punya pager dengan ID masing-masing (sebenanrya bukan pager pribadi, tapi kantor yg berlangganan, kita cuma makai doang). Kenangan paling asyik adalah saat tugas di desk kriminal koran Metro Banjar. Waktu itu pos tugas di RS Islam, RS Suaka Insan, RSUD Ulin, Poltabes dan Polsekta Banjarmasin Timur. Pager jadi benda yg sangat bermanfaat untuk mencari berita, terutama yang bersumber dari rumah sakit. Informan dari rumah sakti yang biasa mengirim pesan. Sehari bisa tiga sampai lima kali. Tapi jeleknya, informasi itu tidak gratis. Harus ada pengganti uang lelah mereka menelpon. Awalnya tak pikir panjang, tiap pager berbunyi langsung dah aku meluncur ke rumah sakit. Ketemu sang informan Rp 5000 melayang. Sehari tiga kali Rp 5000x3= Rp 15 ribu. Awalnya mereka (jumlah informan tidak cuma satu) jadi sumber yang paten. Waktu itu persaingan koran di desk kriminal cukup tinggi. Paling anti kalo bagi-bagi informasi dengan wartawan dari media lain. Istilahnya kalo sukses membobol temen yang tidak tahu informasi, rasanya hati ini sangat puas. Rp 5000 sekali pesan rasanya sudah cukup banyak pada tahun 2000-an. Tapi belakangan yang pakai pager bukan hanya kami. Media lain juga demikian,. Dan mereka juga berani membayar lebih untuk informasi. Lambat laun persaingan jadi tak sehat dan yang untung informan...hahahaha. Saat masih asyik-asyiknya memakai pager, tiba-tiba muncul handphone. Waktu itu harganya masih sangat mahal. kartu perdana Simpati ku pertama beli Rp 400 ribu. Teman ada yang beli Rp 1,5 juta. Gila banget. Handphone pertamaku Nokia 3310. Waktu itu rasanya keren banget karena di kantor masih belum byk yg pakai handphone. Siemens A55 ini kalo tak salah handphone keduaku. Masih belum warna, tapi nada deringnya kecang dan anti banting alias enggak rusak kalo dibanting. Pakai si emen ini juga bentar, muncul lagi handphone warna, muncul handphone dengan nada dering mp3, muncul HP berkamera, muncul 3G dsb. Teknologi selalu melakukan lompatan-lompatan intelektual jika sudah mencapai titik masimal. Sementara manusia berjalan seiring deret ukur.
SEORANG teman anggota 'jemaah multiply' tadi pagi menelpon. Dia pengen tukar pikiran tentang blog dan facebook. Menurut dia, akhir-akhir ini emailnya penuh dengan pesan dari facebook. Kebetulan dia terbiasa membaca pesan baik dari multiply atau dari situs pertemanan dari email. Yang jadi perhatiannya adalah, pesan dari multipy yang biasa link ke emailnya menghilang, berganti dengan bejibun pesan dari facebook miliknya. Ada apa gerangan? Dia pun bingung. Teman itu berasumsi, teman-temannya sudah berpaling dari multiply. Padahal, dulu tiap hari dia selalu bisa memantau postingan teman atau buku tamunya hanya lewat email. Kalua meminjam istilah yang dibikin Eddy, seorang Mper sejati dari Banjarbaru, Berselingkuh dengan facebook. Tapi apa benar demikian? Memang belum bisa dipastikan karena tidak ada penelitian ilmiah yang membandingkan penggunaan facebook dengan multiply. Soal suka dan tidak suka itu relatif. Misalnya, bisa saja saya yang teramat suka dengan multiply berganti menggunakan facebook hanya karena di facebook ada fasilitas chat. Tapi analisis semacam itu tentu saja tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Sebab seperti yang sudah basa jadi patron, kalau sudah kadung cinta, biasanya susah berpaling (cie..cie..). Kekhawatiran teman itu makin menjadi ketika diskusi singkat kita tentang facebook dan multiply itu membahas tentang kemungkinan kalah mengalahkan antara satu situs dengan situs yang lain. Artinya beragam cara dilakukan, termasuk cara-cara negatif. kata teman itu misalnya di facebook termuat semacam virus yang membuat pesan, postingan dari multiply yang masuk ke email jadi terlambat datangnya. Dua hari, tiga hari bahkan seminggu baru nongol di inbox email. Bagi saya yang hanya seorang user dengan pengetahuan pas-pasan, nalar saya tak sampai berpikir ke situ. Saya hanya menyarankan kepada teman itu agar melihat settingan di emailnya. Kalau mau pesan, postingan dari facebook tidak memenuhi emailnya saya sarankan diubah saja settingan aagr tidak terkirim ke email. Saya juga menyarankan kalo mau terus memantau posting, pesan dsb yg berasal dari temen- teman di MP, login saja langsung dari MP kemudian buka inbox. Hmm...tapi akhir-akhir ini rasanya postingan teman-teman di MP agak berkurang. Entah karena kesibukan, atau ada sebab lain. Bagi saya ini hanya soal musim. Dulu mungkin musim friendster, lalu ada musim multiply, sekarang ada musim facebook. Kalo bertepatan musimnya sudah bisa dipastikan banyak yang menggunakan. Tapi pasti..dan hakkul yakin saya merasa pasti sepasti-pastinya, walau ada yang selingkuh (hehehe) ada teman-teman yang setia pada satu situs pertemanan. Kalau saya sudah pasti setia pada MP, Lebih mudah mengekspresikan diri. Terutama upload foto dan tulisan bisa lebih byk hehehe.. Facebook dan situs jejaring sosial lainnya hanya jaringan penambah teman dan mencari teman-teman lama. Bagaimana dengan anda? SAYA lupa kapan pertamakali terdaftar sebagai 'jemaah' multiply. Rasanya lebih setahun. Eh..mungkin dua tahun. Tapi entahlah. Pokoknya cukup lama lah. Terasa lama karena untuk mencapai kontak atau teman sampai 100 rasanya tidak dalam waktu dekat. Beda dengan facebook. Dalam waktu seminggu saya sudah bisa 'mengoleksi' lebih dari 100 teman. Sampai suatu ketika saya lihat kontak saya di multiply sudah lebih dari 100. Wow..suatu jumlah yang lumayan dan sangat berarti, meskipun tidak semua kontak itu bisa saya sapa tiap hari atau saya kunjungi blognya (kecuali bubuhan banjarbadinsanak...hehehe). Kalo di facebook mungkin angka 100 kontak biasa. Tapi di blog khususnya multiply sungguh berarti. Sebab untuk mencapainya perlu perjuangan menguras pikiran (menulis) dan tenaga (begadang euy). Tapi terlepas dari itu semua, angka 100 memang spesial. Angka ini dianggap jadi yang terbaik di banding angka-angka lain dari ) sampai 99. Guru mengapresiasikan nilai tertinggi untuk siswanya dengan bilangan ini. Pemerintah Indonesia meletakkan pecahan 100 ribu sebagai pecahan tertinggi mata uang negeri ini.Angka 100 juga jadi penanda memasuki babak baru sejarah yang disebut kurun satu abad. Kalau kita sedikit berkaca ke belakang, 100 juga jadi patokan bagi ilmuan penemu termometer. Celcius memasang skala 0 sampai 100 untuk mengukur suhu. Skala Celcius adalah pengukuran suhu yang paling banyak digunakan dunia. Ada lagi cerita sedikit meragukan tentang angka 100 terkait dengan situs search engine terbesar di dunai, google.com. Kabarnya, nama asli Google dipublikasikan oleh perusahaan sebagai cerita salah tulis dari kata Googol yang artinya angka 1 diikuti 100 angka nol dibelakangnya menjadi Google. Padahal, menurut bocoran salah seorang karyawan awal Google, sebenarnya kata Google berasal dari kata "Go Girl !", dimana Sergey Brin (salah seorang pendiri google) suatu saat memperoleh ide tersebut ketika sedang menonton pertandingan olahraga dengan para Cherleader yang meneriakkan kata Go Girl ! Go Girl ! (gogel). Gara-gara angka 100, seorang pengusaha Indonesia dan perusahaan Singapura berebut merek 100. Sengketa serupa sebelumnya pernah diputus Mahkamah Agung. Buat Harry sanusi, deretan tiga angka itu punya arti mendalam. Gara-gara menggunakannya sebagai merek dagang produknya, pengusaha ini mesti berulang kali beperkara di meja hijau. Lelaki yang tinggal di kawasan Taman Sari, Jakarta, itu mesti kembali berjibaku di pengadilan niaga jakarta untuk mempertahankan mereknya tersebut. Gimana rasanya jika sesuatu yang hilang ditemukan kembali? Sesuatu yang dianggap tiada tiba- tiba muncul di hadapan mata? Senang, tentu saja iya. Apalagi sesuatu itu (benda) selalu mendampingi selama berbulan-bulan. Canon Powershot A630 namanya. Benda ini tak lagi mendampingiku selama lebih kurang 2 bulan. Kamera ini sudah aku anggap hilang karena keteledoranku. Sekitar dua bulan lalu kamera ini menghilang. Kejadiannya pas aku lagi naik motor menuju kantor. waktu itu as ranselku terbuka. Pikiranku langsung meleng, kamera jatuh dari tas saat naik motor. Apa boleh buat, namanya hilang di jalan ya sudah biar saja. Tawakal saja kepada Allah. Entah kenapa walau kehilangan, aku koq tak merasa rugi. Eh tadi pagi pas mau berangkat ke kantor, aku mengambil baju di lemari. Kulihat benda mungil warna silver terjepit diantara kardigan dan kaos oblong hitam kesayanganku. Dengan berdebar-debar hati, aku tarik benda itu. Ternyata A630 adadi sana. Wowo betapa senang hati ini....hehehehe. Tapi aneh juga, tiap hari aku selalu menangbil pakaia ndari lemari itu. Kadang sehari bisa tiga kali aku ganti pakaian. Tapi koq ya baru hari ini A 630 tertangkap mataku? Padahal, pas pertama hilang aku dah nyari-nyari ke dalam lemari lho. Tapi, walau bagaimanapun Alhamdulillah A630 balik kepadaku. DUA hari lalu aku nyoba bikin account facebook. Gampah sih, tapi loadingnya agak lambat (apa specs komputerku yg payah ya, hehehe). Sebenarnya setahun lalu aku udah punya account di facebook. Tapi lama tidak diakses jadi hilang dah. Jadi bikin account lagi gara-gara pengen lihat facebooknya Rudy Ariffin, Gubernur Kalsel buat ditampilin di koran Banjarmasin Post. Soalnya dia minta semua pejabat Pemprov Kalsel bikin account facebook. Rupanya pak gubernur enggak mau kalah sama Obama. Dia juga menginstruksikan Sekdaprov Kalsel, Muchlis Gafuri mengagendakan pelatihan singkat pembuatan Facebook bagi para pejabat, khususnya eselon II, III dan IV. Facebook adalah situs jejaring yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 oleh mahasiswa Universitas Harvard, Mark Zuckerberg. Setiap orang yang memiliki komputer yang terkoneksi dengan internet bisa menjadi anggota. Ada beberapa kelebihan Facebook dibanding web jejaring lainnya seperti Friendster. Kelebihan itu antara lain tampilan yang menarik, iklan tidak mencolok, adanya jaringan negara, bisa bikin group berdasar minat, tidak terbatasnya tempat foto, bisa menampilkan agenda event, anti-spam dan fake account, mobile acces and browsing serta mudah membikin aplikasi. Satu lagi, bisa chat..hehehe Sedangkan kekurangannya antara sign up yang membingungkan, terlalu banyak fitur, aplikasi agak sulit, kurang familiar dengan orang yang suka berganti background dan layout dan masih terkesan eksklusif. Tapi setelah mencoba2, dibanding semua itu bagi diriku yg tidak terlalu familiar dengan teknologi tinggi ini, multiply jauh........jauhhhhhhhhhh...banget lebih baik di banding blog, jejarring lainnya.  Hari ini giliran Pratiwi Utami menyumbang tulisan lewat blognya www.jajakata.wordpress.com di Rubrik Halte Blogger Banjarmasin Post. Isinya tentang pengalaman dia di Australia. Tiwi adalah lulusan UGM asal Pelaihari, Kalsel. Dia peserta pertukaran pemuda Indonesia-Australia. Mau tahu tulisannya baca di epaper www.banjarmasinpost.co.id. Minggu depan Insya Allah giliran blog Sigit, warga Banjarbaru dengan blognya www.purnamatravel.wordpress.com. Kalau ad yg senang nulis di blogspot, atau fasilitas sejenis lain bisa juga koq dipublikasikan. Salam  Kamis (9/1) blog Sugiharto Hendrata (http://borneohijau.multiply.com/) sudah ditampilkan di BPost.Mau lihat tampilannya bisa dibacadi epaper http://www.banjarmasinpost.co.id/ Siapa blogger berikutnya? Ayo tampilkan blog kamu di Banjarmasin Post tiap Kamis, contact royan.naimi@gmail.com. Mari sama-sama kita giatkan menulis di blog.  Kamis (9/1) blog Sugiharto Hendrata (borneohijau.multiply.com) sudah ditampilkan di BPost.Mau lihat tampilannya bisa dibacadi epaper banjarmasipost.co.id. Siapa blogger berikutnya? Ayo tampilkan blog kamu di Banjarmasin Post tiap Kamis, contact royan.naimi@gmail.com. Mari sama-sama kita giatkan menulis di blog Mohon maaf ada perubahan rencana. Awalnya BPost mau menerbitkan tulisan blogger Kalsel tiap Jumat, dimulai 9 Januari 2009. Tapi karena dianggap mendesak, jadwalnya dimajukan tiap Kamis, dimulai 8 Januari 2009. Bagi blogger Banua yang punya pengalaman menarik mendatangi suatu tempat, tuangkan saja jadi tulisan di blog kamu. Nanti blognya diterbitkan di Banjarmasin Post. So baca BPost edisi besok ya atau baca epaper di www.banjarmasinpost.co.id BACA DI BAWAH INIBUKAN hanya wartawan atau penulis profesional bisa membuat tulisan menarik, atraktif dan enak di baca. Seiring kemajuan teknologi, muncul penulis-penulis lepas dengan kualitas tulisan tak kalah dari penulis profesional. Teknologi sangat membantu dengan menyediakan fasilitas, salah satunya adalah blog. Tiap hari muncul ratusan bahkan ribuan blogger. Lalu muncul lah isitlah citizen journalism. Koran Banjarmasin Post, koran terbesar di Kalsel tidak mau ketinggalan mengakomodir para penulis di blog. Rencananya tiap edisi Jumat, BPost menampil tulisan-tulisan para blogger secara bergiliran. Untuk memudahkan, Bpost menggunakan satu tema besar tulisan, yakni tentang "pengalaman perjalanan". Nanti tulisan dan blog akan ditampilkan di koran Banjarmasin Post. Bagi blogger Kalsel yang berminat bisa korenspondensi melalui www.royannaimi.multiply.com. Atau lewat email royan.naimi@gmail.com. Trims Atas perhatiannya BUKAN hanya wartawan atau penulis profesional bisa membuat tulisan menarik, atraktif dan enak di baca. Seiring kemajuan teknologi, muncul penulis-penulis lepas dengan kualitas tulisan tak kalah dari penulis profesional. Teknologi sangat membantu dengan menyediakan fasilitas, salah satunya adalah blog. Tiap hari muncul ratusan bahkan ribuan blogger. Lalu muncul lah isitlah citizen journalism. Koran Banjarmasin Post, koran terbesar di Kalsel tidak mau ketinggalan mengakomodir para penulis di blog. Rencananya tiap edisi Jumat, BPost menampil tulisan-tulisan para blogger secara bergiliran. Untuk memudahkan, Bpost menggunakan satu tema besar tulisan, yakni tentang "pengalaman perjalanan". Nanti tulisan dan blog akan ditampilkan di koran Banjarmasin Post. Bagi blogger Kalsel yang berminat bisa korenspondensi melalui www.royannaimi.multiply.com. Atau lewat email royan.naimi@gmail.com.
Trims Atas perhatiannya
Royan Naimi Bosan, bete, geram dan sejenisnya. Email sampah seperti ini datang terus
From The Desk of Mr.Abdul Karim From Foreign Remittance Dept of (B.O.A), Bank of Africa, Corporate Office. 136, Kwame N'Kurumah Road,Ouagadougou Republic Du Burkina Faso.Tel: +226-76334818 Attention Friend, I am Mr.Abdul Karim Lafi the auditing and accountant manager of foreign remittance dept of (B.O.A) Bank of Africa in ouagadougou republic of Burkina Faso. I am contacting you on a business transfer of a huge sum of money from a deceased account. Though i know that a transaction of this magnitude will make any one apprehensive and worried, but i am assuring you that all will be well at the end of the day. I decided to contact you due to the urgency of this transaction. Proposition; I discovered an abandoned sum of us$10,500,000.00 (ten million five hundred thousand united states dollars) in an account that belongs to one of our foreign customers who died in a plane crash along with his entire family. Since his death, none of his next-of-kin or relations has come forward to lay claims for this money as the heir. We cannot release the fund from his account unless someone applies for claim as the next-of-kin to the deceased as indicated in our banking guidelines. Upon this discovery, i now seek your permission to have you stand as a next of kin to the deceased as all cumentations will be carefully worked out by us for the funds (us$10,500,000.00) to be released in your favour as the beneficiary's next of kin. It may interest you to know that we have secured from the probate an order of mandamus to locate any of deceased beneficiaries. Please acknowledge the receipt of this message in acceptance of our mutual business endeavour by furnishing me with the following; 1. Beneficiary name and address 2. Direct telephone and fax numbers These requirements will enable us file letter of claim to the appropriate departments for necessary approvals in your favour before the transfer can be made. I shall be compensating you with 30% of the total fund on final conclusion of this project, while the rest shall be for us for investment purposes in your country that you will propose to us.You are expected to reply me through my private address ( mrabdul101@o2.pl ) Tel: +226-76334818. Yours sincerely Mr.Abdul Karim
| |